LANDASAN PSIKOLOGI PENDIDIKAN

LANDASAN PSIKOLOGI PENDIDIKAN

images (1)BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Psikologi pendidikan adalah studi ilmiah tentang perilaku dan proses mental. Psikologi pendidikan  merupakan cabang ilmu psikologi yang mengkhususkan diri pada cara memahami pengajaran dan pembelajaran dalam lingkungan pendidikan. Psikologi pendidikan adalah bidang yang sangat luas sehingga dibutuhkan satu buah bahasan tersendiri untuk menjelaskannya. Berpangkal pada kenyataan bahwa kepribadian manusia itu sangat bermacam-macam sekali, mungkin sama banyaknya dengan banyaknya orang, segolongan ahli berusaha menggolong-golongkan manusia ke dalam tipe-tipe tertentu, karena mereka berpendapat bahwa cara itulah paling efektif untuk mengenal sesama manusia dengan baik. Pada sisi lain, sekelompok ahli berpendapat, bahwa cara bekerja seperti dikemukakan di atas itu tidak memenuhi tujuan psikologi kepribadian, yaitu mengenal sesama manusia menurut apa adanya, menurut sifat-sifatnya yang khas, karena dengan penggolongan ke dalam tipe-tipe itu orang justru menyembunyikan kekhususan sifat-sifat seseorang.

Pada hakikatnya inti persoalan psikologi pendidikan adalah bagaimana perlakuan terhadap anak didik, yang secara psikologis pelakuan tersebut harus selaras dengan keadaan peserta didik. Pentingnya psikologi pendidikan diberikan kepada mahasiswa calon guru sebagai upaya melengkapi khasanah keprofesionalannya dalam melaksanakan profesi sebagai pendidik. Bahwa dalam melaksanakan tugasnya sebagai pendidik perlu memahami karakter dan tingkat perkembangan peserta didiknya (perkembangan pisik maupun non pisik) untuk memudahkan proses pembelajaran kepada siswanya. Karena anak di usia sekolah masih  berada pada tahap pertumbuhan dan perkembangan,  kedua-duanya tersebut  dominan, sehingga perlu mendapatkan  pengarahkan dan  perlakuan yang tepat. Dalam  sekelompok siswa/kelas memiliki keragaman, baik secara sosial maupun secara individu. Dengan pemahaman terhadap ilmu psikologi khususnya psikologi pendidikan dapat membantu calon guru/guru untuk memberikan perlakuan yang tepat terhadap kecerdasan, bakat, minat dan kepribadian yang dimiliki oleh peserta didik, sehingga ia mampu tumbuh dan berkembang dengan baik dan berkeseimbangan (jasmani dan rohani termasuk seimbangnya antara aktivitas belahan otak kanan dan kiri).

  1. Rumusan Masalah :
  2. Apa konsep dasar psikologi ?
  3. Bagaimana perkembangan anak ?
  4. Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan anak ?
  5. Apa saja teori belajar yang dipelajari di psikologi pendidikan ?
  6. Apa saja permasalahan yang dihadapi anak dalam masa perkembangannya ?
  1. Tujuan Penulisan :
  2. Untuk mengetahui konsep dasar psikologi.
  3. Untuk mengetahui perkembangan anak.
  4. Untuk mengetahui factor-faktor yang mempengaruhi perkembangan anak.
  5. Untuk mengetahui teori belajar yang dipelajari di psikologi pendidikan.
  6. Untuk mengetahui permasalahan yang dihadapi anak dalam masa perkembangannya.
  1. Manfaat Penulisan :

Bagi Penulis :

Penulisan ini diharapkan dapat memberikan wawasan keilmuan bagi penulis dan juga dapat memberikan sumbangan informasi – informasi terhadap ilmu pengetahuan bagi konsep Dasar-Dasar Pendidikan khususnya mengenai Landasan Psikologi Pendidikan.

Bagi Pembaca :

Agar Pembaca mengetahui tentang Landasan Psikologi Pendidikan.

 

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

Arti dan Makna Psikologi dalam Pendidikan

Psikologi berasal dari bahasa Yunani, yaitu “Pcyche” artinya roh dan “logy” artinya ilmu pengetahuan, yang selengkapnya artinya ilmu pengetahuan yang mempelajari jiwa atau ilmu jiwa. Beberapa aliran psikologi misalnya strukturalisme, asosiasionisme, fungsionalisme, behaviorisme, psikologi dalam personalistik dan sebaginya. Psikologi pendidikan adalah sub disiplin psikologi yang berkaitan dengan teori dan masalah kependidikan yang bersifat praktis yang berguna dalam (1) penerapan prinsip-prinsip belajar dalam kelas; (2) pengembangan dan pembaharuan kurikulum; (3) ujian dan evaluasi bakat dan kemampuan; (4) sosialisasi proses-proses dan interaksi dengan pendayagunaan ranah kognitif dan (5) penyelenggaraan pendidikan melalui aktivitas keguruan. Fungsi utama kajian psikologi pendidikan adalah interaksi antara pendidik (guru) dengan peserta didik (siswa).

Arti pentingnya psikologi pendidikan

Proses pendidikan adalah mempelajari situasi pendidikan dengan focus utama interaksi pendidikan. Pekerjaan guru adalah bersifat psikologis dari pada pekerjaan dokter, insinyur atau ahli hukum dan guru hendaknya tidak jemu dengan pekerjaannya.

Pentingnya pengetahuan psikologi pendidikan bagi guru

Ilmu ini dapat membantu guru dan tenaga kependidikan lainya untuk memahami tingkah laku belajar anak didiknya lebih baik dan memberikan penjelasan bahwa anak sedang keadaan belajar dengan baik atau tidak, namun pada prinsipnya psikologi pendidikan merupakan alat yang penting untuk memahami tingkah laku belajar anak. Psikologi pendidikan ini sebagai alat bagi guru untuk mengendalikan dirinya, dan juga memberi bantuan belajar kepada peserta didik dalam kegiatan pembelajaran.

Teori-Teori Terkait Perkembangan Anak

Sebenarnya sudah beberapa abad lalu para ilmuwan dan para pemikir memperhatikan seluk beluk kehidupan anak, khususnya dari sudut perkembangannya, untuk mempengaruhi berbagai proses perkembangan dan mencapai kesejahteraan dan kebahagiaan hidup yang didambakan. Anak harus tumbuh dan berkembang menjadi manusia dewasa yang matang, yang sanggup dan mampu mengurus dirinya sendiri dan tidak selalu bergantung pada orang lain. Para tokoh agama dan kaum cendekiawan tentang masalah kemanusiaan, banyak mendorong dan mempengaruhi para orang tua untuk memperlakukan anak secara berbeda dengan orang dewasa. Berikut adalah aliran yang mengungkapkan faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan anak:

Aliran Nativisme

Nativisme merupakan kata dasar dari bahasa Latin, natur yang artinya lahir atau natuvus yang artinya kelahiran atau pembawaan. Tokoh utama aliran ini adalah Arthur Schopenhouer (1788-1860),seorang filosof Jerman. Aliran filsafat ini berkeyakinan bahwa perkembangan anak ditentukan oleh pembawaannya. Aliran nativisme mengemukakan bahwa manusia yang baru dilahirkan telah memiliki bakat dan pembawaan, baik karena dari keturunan orang tuanya, nenek moyangnya maupun karena memang ditakdirkan demikian. Jika pembawaan itu buruk, maka anak itu kelak akan buruk. Sebalinya, jika pembawaan itu baik maka anak itu kelak akan baik pada masa pendewasaannya. Oleh karena itu, menurut aliran ini, pendidikan tidak dapat diubah dan senantiasa berkembang dengan sendirinya. Pendidikan, pengalaman, ataub segala pengaruh dari luar dianggap tak berdaya mengubah kekuatan-kekuatan yang dibawa sejak lahir, dengan kata lain tidak barpengaruh apa-apa. Jean Jacques Rousseau (1712-1778), seorang filsuf Prancis, berpendapat bahwa semua orang ketika dilahirkan mempunyai dasas-dasar moral yang baik. Pandangan Rousseau menjadi titik tolak dari pandangan yang menitik beratkan faktor dunia dengan faktor keturunan sebagai faktor yang penting terhadap isi kejiwaan dan gambaran kepribadian seseorang.

Aliran Empirisme

Aliran empirisme merupakan kebalikan dari aliran nativisme dengan tokoh utama John Locke (1632-1704). Aliran ini mengemukakan bahwa anak yang baru lahir laksana kertas kosong (blank slate) yang putih bersih atau semacam tabula rasa (tabula=meja, rasa=lilin) yaitu meja yang bertutup lapisan lilin. Kertas putih bersih dapat ditulis dengan tinta warna apapun dan warna tulisannya akan sama dengan warna tinta tersebut. Begitu juga halnya dengan meja yang berlilin, dapat dicat dengan warna-warni sebelum ditempelkan. Anak diumpamakan bagaikan kertas putih yang bersih, sedangkan warna tinta diumpamakan sebagai lingkungan (pendidikan) yang akan member pengaruh padanya . pendiddikan dapat mmegang peranan penting dalam perkembangan anak sedangkan bakat bawaannya bisa ditutup dengan pendididkan. Pengaruh pengalaman dan lingkungan hidup sangat penting terhadap perkembangan anak. Ketika dilahirkan, seorang anak adalah pribadi yang masih bersih dan perka terhadap rangsangan yang berasal dari lingkungan. Orang tua menjadi tokoh penting yang mengatur rangsangan-rangsangan dalam mengisi “secarik kertas” yang bersih ini.

Aliran Konvergensi

Pada intinya merupakan perpaduan antara pandangan nativisme dengan empirisme, yang keduanya dipndang sangat berat sebelah. Aliran ini menggabungkan arti penting pembawaan dengan lingkungan sebagai faktor yang berpengaruh terhadap perkembangan anak. Tokoh utama aliran ini adalah Louis William Stern (1871-1938), seorang filsuf sekaligus psikolog Jerman. Stren menetapkan faktor yang mempengaruhi perkembangan anak, tidak hana bergantung pada pembawaan saja tetapi berpegang pada kedua faktor yang sama pentingnya itu. Faktor pembawaan tidak ada artinya apa-apa tanpa faktor pengalaman, sebaliknya factor pengalaman tanpa faktor pembawaan tidak akan mampu mengembangkan manusia yang sesuai dengan harapan. Perkembangan sehat akan berkembang jika kombinasi dari fasilitas yang diberikan oleh lingkungan dan potensialitas kodrati anak bisa mendorong berfungsinya segenap kemampuan anak. Dan kondisi social menjadi sangat tidak sehat apabila segala pengaruh lingkungan merusak bahkan melumpuhkan potensi psiko-fisis anak.

Perkembangan merupakan perubahan-perubahan yang teratur sejak pembuahan sampai mati,  perkembangan terdiri atas :

  1. Kematangan: perubahan yang terjadi secara alami dan spontan tanpa dipengaruhi dari luar. Kematangan ini juga ditandai dengan adanya  perubahan yang terjadi pada individu dikarenakan adanya pertumbuhan fisik dan biologis, misalnya seorang anak yang beranjak menjadi dewasa akan mengalami perubahan pada fisik dan mentalnya.
  2. Belajar merupakan perubahan yang terjadi sebagai hasil dari pengalaman atau latihan. sebuah proses yang berkesinambungan dari sebuah pengalaman yang akan membuat suatu individu berubah dari tidak tahu menjadi tahu (kognitif), dari tidak mau menjadi mau (afektif) dan dari tidak bisa menjadi bisa (psikomotorik), misalnya seseorang anak yang belajar mengendarai sepeda akan terlebih dahulu diberi pengarahan oleh orang tuanya lalu anak tersebut mencoba untuk mengendarai sepeda hingga menjadi bisa.

Berdasarkan perkembangan individu Ilmu pendidikan terdiri atas:

  1. Pedagogi: ilmu dan seni mengajar (membelajarkan) anak-anak (pedagogy is the science and arts of teaching children)
  2. Andragogi: ilmu dan seni membantu orang dewasa belajar (andragogy is the science and arts of helping adults learn)
  3. Gerogogi: ilmu dan seni untuk membantu manusia lanjut usia belajar (gerogogy is the science and arts of helping aging learn)

Perkembangan anak adalah perkembangan yang dialami oleh anak-anak secara continue, yang mana lama-kelamaan anak akan mengalami kemajuan. Menurut Ch. Buhler perkembangan anak pada masa kedua adalah usia 2-4 tahun yang mana keadaan dunia luar semakin dikuasai dan dikenalnya melalui bermain, kemajuan bahasa, dan pertumbuhan kemauannya. Dunia luar dilihat dan dinilainya menurut keadaan dan sifat batinnya. Semua binatang dan benda mati disamakan dirinya. Dan bila anak berusia 3 tahun ia akan mengalami krisis pertama.Dengan proses pertumbuhan fisik dan perkembangan mental psikologis yang diperoleh anak secara optimal dapat diharapkan si anak akan tumbuh berkembang menjadi manusia dewasa yang baik dan berkualitas sebagaimana yang diharapkan dirinya sendiri, juga oleh orang tua dan masyarakat.

Teori belajar behavioristik adalah sebuah teori yang dicetuskan oleh Gage dan Berliner tentang perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman. Teori ini lalu berkembang menjadi aliran psikologi belajar yang berpengaruh terhadap arah pengembangan teori dan praktik pendidikan dan pembelajaran yang dikenal sebagai aliran behavioristik. Aliran ini menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar. Teori behavioristik dengan model hubungan stimulus-responnya, mendudukkan orang yang belajar sebagai individu yang pasif. Respon atau perilaku tertentu dengan menggunakan metode pelatihan atau pembiasaan semata. Munculnya perilaku akan semakin kuat bila diberikan penguatan dan akan menghilang bila dikenai hukuman.

Belajar merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon (Slavin, 2000:143). Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika dia dapat menunjukkan perubahan perilakunya. Menurut teori ini dalam belajar yang penting adalah input yang berupa stimulus dan output yang berupa respon. Stimulus adalah apa saja yang diberikan guru kepada pebelajar, sedangkan respon berupa reaksi atau tanggapan pebelajar terhadap stimulus yang diberikan oleh guru tersebut. Proses yang terjadi antara stimulus dan respon tidak penting untuk diperhatikan karena tidak dapat diamati dan tidak dapat diukur. Yang dapat diamati adalah stimulus dan respon, oleh karena itu apa yang diberikan oleh guru (stimulus) dan apa yang diterima oleh pebelajar (respon) harus dapat diamati dan diukur. Teori ini mengutamakan pengukuran, sebab pengukuran merupakan suatu hal penting untuk melihat terjadi atau tidaknya perubahan tingkah laku tersebut.

 

BAB III

PEMBAHASAN

  1. Konsep Dasar Psikologi.

Psikologi berasal dari bahasa Yunani, yaitu “psyche” artinya roh dan “logy” artinya ilmu pengetahuan, yang selengkapnya artinya ilmu pengetahuan yang mempelajari jiwa atau ilmu jiwa. Beberapa aliran psikologi misalnya strukturalisme, asosiasionisme, fungsionalisme, behaviorisme, psikologi dalam, psikologi personalistik dan sebagainya. Psikologi pendidikan adalah sub disiplin psikologi yang berkaitan dengan teori dan masalah kependidikan yang bersifat praktis yang berguna dalam (1) penerapan prinsip-prinsip belajar dalam kelas; (2) pengembangan dan pembaharuan kurikulum; (3) ujian dan evaluasi bakat dan kemampuan; (4) sosialisasi proses-proses dan interaksi dengan pendayagunaan ranah kognitif; dan (5) penyelenggaraan pendidikan melalui aktivitas keguruan.
Fokus utama kajian psikologi pendidikan adalah interaksi antara pendidik (guru) dengan peserta didik (siswa).

  1. Arti Pentingnya Psikologi Pendidikan

Proses pendidikan adalah mempelajari situasi pendidikan dengan fokus utama interaksi pendidikan. Pekerjaan guru adalah bersifat psikologis daripada daripada pekerjaan dokter, insinyur atau ahli hukum dan guru hendaknya tidak jemu dengan pekerjaannya.

  1. Tujuan dan Kegunaan Mempelajari Psikologi Pendidikan

Tujuannya adalah (1) agar seseorang mempunyai pemahaman yang lebih baik tentang individu, baik dirinya sendiri maupun orang lain; (2) dapat memberikan perilaku yang lebih bijaksana. Dan kegunaanya adalah merupakan alat bantu yang penting bagi penyelenggara pendidikan untuk mencapai pendidikan.

  1. Kekuatan-kekuatan Umum Jiwa Manusia

Jiwa manusia terdiri atas tiga kekuatan, yaitu (1) akal sebagai kekuatan terpenting dari jiwa manusia, (2) spirit sebagai kekuatan penggerak kehidupan pribadi manusia; (3) nafsu sebagai stimuli gerakan fisik dari kejiwaan dan merupakan kekuatan paling konkret dalam diri manusia.Pengetahuan kekuatan kejiwaan ini sangat perlu dipelajari oleh guru-guru atau pendidik demi kelancaran memberi pelayanan sesuai dengan sifat umum jiwa anak didik dan memotivasi tingkah laku di dalam proses belajar mengajar.

Pentingnya Pengetahuan Psikologi Pendidikan bagi Guru

Ilmu ini dapat membantu guru dan tenaga kependidikan lainnya untuk memahami tingkah laku belajar anak didiknya lebih baik dan memberikan penjelasan bahwa anak sedang keadaan belajar dengan baik atau tidak, namun pada prinsipnya psikologi pendidikan merupakan alat yang penting untuk memahami tingkah laku belajar anak. Psikologi pendidikan ini sebagai alat bagi guru untuk mengendalikan dirinya, dan juga memberi bantuan belajar kepada peserta didik dalam kegiatan pembelajaran.

 

  1. Perkembangan Anak.

Pengertian lain dari perkembangan adalah “perubahan-perubahan yang dialami individu atau organisme menuju tingkat kedewasaannya atau kematangannya (maturation) yang berlangsung secara sistematis, progresif, dan berkesinambungan, baik menyangkut fisik (jasmaniah) maupun psikis (rohaniah)”.Yang dimaksud dengan sistematis, progresif, dan berkesinambugan itu adalah sebagai berikut:

a. Sistematis: perubahan dalam perkembangan itu bersifat saling kebergantungan atau saling mempengaruhi antara bagian-bagian organisme (fisik dan psikis) dan merupakan satu kesatuan yang harmonis. Contoh: seperti kemampuan berjalan anak seiring dengan matangnya otot-otot kaki.

b. Progresif: perubahan yang terjadi bersifat maju, meningkat, dan mendalam (meluas) baik secara kualitatif (fisik) maupun kuantitatif (psikis). Contoh: perubahan proporsi dan ukuran fisik anak (dari pendek menjadi tinggi dan dari kecil menjadi besar).

c. Berkesinambungan: perubahan pada bagian atau fungsi organisme itu berlangsung secara beraturan atau berurutan, tidak terjadi secara kebetulan atau loncat-loncat. Contoh: untuk dapat berjalan anak harus menguasai tahapan perkembangan sebelumnya, yaitu kemampuan duduk dan merangkak.

Perkembangan pada anak tidak berlangsung secara mekanis otomatis, sebab perkembangan tersebut sangat bergantung pada beberapa faktor secara simultan, yaitu:
a. Faktor hereditas (sejak lahir, bawaan)

b. Faktor lingkungan yang menguntungkan, atau merugikan

c. Kematangan fungsi-fungsi organis dan fungsi-fungsi psikis,

d. Aktifitas anak sebagai subyek bebas yang berkemauan, kemampuan selektif, bisa menolak atau menyetujui, punya emosi, serta usaha membangun diri sendiri.

Perkembangan menunjukkan suatu proses tertentu, yaitu suatu proses yang menuju kedepan yang tidak dapat diulang kembali. Dalam perkembangan manusia terjadi perubahan-perubahan yang sedikit banyak bersifat tetap dan tidak dapat diulangi. Perkembangan menunjukkan pada perubahan-perubahan dalam suatu arah yang bersifat tetap dan maju. Perkembangan berkaitan dengan perubahan kualitatif dan kuantitatif. Ia dapat didefinisikan sebagai deretan progresif dari perubahan yang teratur dan kohern “Progresif” menandai bahwa perubahannya terarah, membimbing menuju maju dan bukan mundur. “Teratur” dan “Kohern” menunjukkan adanya hubungan nyata antara perubahan yang terjadi dan yang telah mendahului atau yang akan mengikutinya.

Setiap anak bersifat unik, tidak ada dua anak yang sama sekalipun kembar siam. Setiap anak terlahir dengan potensi yang berbeda-beda; memiliki kelebihan, bakat dan minat sendiri. Kenyataan menunjukkan bahwa setiap anak tidak sama, ada yang sangat cerdas, ada yang biasa saja, dan ada yang kurang cerdas. Perilaku anak juga beragam, demikian pula langgam belajarnya. Berdasarkan teori perkembangan anak,diyakini bahwa setiap anak lahir lebih dari satu bakat. Bakat tersebut bersifat potensial dan ibaratnya belum muncul diatas permukaan air. Untuk itulah anak perlu diberikan pendidikan yang sesuai dengan perkembangannya dengan cara memperkaya lingkungan bermainnya.

Oleh karena itu para pendidik anak usia dini perlu mengenal pembelajaran untuk anak yang berkebutuhan khusus. Dengan memahami kebutuhan khusus setiap anak diharapkan para guru mampu mengembangkan potensi anak dengan baik. Anak usia dini sedang dalam tahap pertumbuhan dan perkembangan baik fisik maupun mental yang paling pesat. Pertumbuhan dan perkembangan telah dimulai sejak prenatal, yaitu sejak dalam kandungan. Begitu pentingnya usia dini, sampai ada teori yang menyatakan bahwa pada usia empat tahun 50% kecerdasan telah tercapai, dan 80% pada usia delapan tahun.Anak usia dini juga sedang mengalami pertumbuhan dan perkembangan baik fisik maupun mental yang sangat pesat. Sel-sel tubuh anak tumbuh dan berkembang amat cepat. Makanan bergizi dan seimbang serta stimulai pikiran sangat diperlukan untuk mendukung proses tersebut.

Selain pertumbuhan dan perkembangan fisik dan motorik, perkembangan moral (termasuk kepribadian, watak, dan akhlak), sosial, emosional, intelektual, dan bahasa juga berlangsung amat pesat.Perkembangan fisik berlangsung secara teratur,tidak secara acak. Perkembangan bayi ditandai dengan adanya perubahab dari aktivitas yang tidak terkendali menjadi suatu aktivitas yang terkendali. Perkembangan fisik pada masa bayi berjalan dengan cepat. Bayi belajar untuk mengendalikan kepala,menggapai sebuah objek,dan barang kali berdiri dan berjalan  ditahun pertama tersebut.

Ketika anak-anak tumbuh,perkembangan dari keterampilan motor mereka tidaklah samacepatnya dengan seperti pada masa kanak-kanak, tetapihal tersebut berlangsung terus sepanjang masa kanak-kanak. Perkembangan social dan emosional bayi juga tidak dapat dibedakan,pada respons yang diberikan terhadap suatu stimuli seperti lapar atau dingin maka akan menimbulkan tangisan yang tidak dikhususkan bagi stimuli tersebut. Ketika anank berusia tiga tahun,anak mulai membangun suatu hubungan dengan keluarga mereka dan juga dengan orang lain yang bukan merupakan anggota keluarga mereka. Mereka juga mencoba untuk membuat sebuah strategi untuk menyatakan keinginan mereka dan beberapa ide tentang identifikasi terhadap peran seks.

Guru yang berfikir tentang prilaku anak-anak akan merencanakan program yang menyediakan banyak peluang untuk anak-anak untuk membangun kepercayaan dan untuk membuat berbagai pilihan serta merasakan sukses dari pilihan yang mereka buat sendiri. konsep diri dikembangkan secara bertahap; anak mengembangkan konsep dirinya sebagai seorang individu yang terpisah dari orang lain selama beberapa tahun. Melalui interaksi pertama anak dengan orang tua dan keluarga dan kemudian dengan orang lain di luar keluarga tersebut,anak secara berangsur-angsur mulai mengembangkan suatu konsep mengenaiseperti apa mereka dan siapa mereka.

Perkembangan kognisi mengacu pada perkembangan anak dalam berfikir dan kemampuan untuk member alas an. Perkembangan kognitif dari anak-anak yang lebih muda diuraikan dalam beberapa teori yang berbedadi daam kurun waktu yang berbeda. Para pendukung teori behavior memiliki segi pandang bahwa anak-anak tumbuh dengan mengumpulkan informasi yang semakin bayak dari hari ke hari. Piaget dalam Nixon dan Gould menguraikan perkembangan kognitif dari anak-anak dalam beberapa langkah,yang mencangkup tahap sensorimotor,pra operational,dan tahap konkret operasional. Tahapan-tahapan ini mengembngkan anak untuk bertumbuh kearah kedewasaan dan juga pengalaman.

  1. Faktor-Faktor yang mempengaruhi Perkembangan Anak.

Pola perkembangan dapat dipengaruhi oleh keadaan atau kondisi di luar si anak itu sendiri. Perkembanga tidak hanya dipengaruhi oleh satu faktor saja. Melainkan dari banyak faktor yang saling berhubungan dan saling bergantung. Berikut adalah beberapa faktor yang mempengaruhi perkembangan anak:

  1. Faktor Genetik

Faktor genetik adalah modal dasar dalam mencapai hasil akhir proses tumbuh kembang anak. Faktor ini juga merupakan faktor bawaan anak, yaitu potensi anak yang menjadi ciri khasnya. Melalui genetiknya yang terkandung di dalam sel telur yang telah dibuahi, dapat ditentukan kualitas dan kuantitas pertumbuhan. Di tandai dengan intensitas dan kecepatan pembelahan, derajat sensivitas jaringan terhadap rangsangan, umur pubertas dan berhentinga pertumbuhan tulang.

  1. Faktor Lingkungan

Lingkungan merupakan faktor yang sangat menentukan tercapai atau tidaknya potensi bawaan. Faktor ini disebut juga melieu merupakan tempat anak tersebut hidup dan berfungsi sebagai penyedia kebutuhan dasar anak. Lingkungan cukup baik akan memungkinkan tercapainya potensi bawaan, sedangkan yang kurang baik akan menghambatnya. Lingkungan merupakan lingkungan “bio-fisiko-psiko-sosial” yang mempengaruhi individu setiap hari, mulai dari konsepsi sampai akhir hayatnya. Faktor lingkungan ini secara garis besar dibagi menjadi 2 yakni:

a)      Faktor yang mempengaruhi anak pada waktu masih di dalam kandungan (lingkungan pranatal).  Faktor lingkungan prenatal yang berpengaruh terhadap tumbuh kembang janin mulai dari konsepsi sampai lahir, antara lain: gizi ibu pada waktu hamil, mekanisme, toksin/zat kimia, endoktrin, radiasi, infeksi, stress, imunitas, anoksia embrio.

b)       Faktor lingkungan yang mempengaruhi tumbuh kembang anak setelah lahir (lingkungan postnatal). Bayi baru lahir harus berhasil melewati masa transisi, dari suatu system yang teratur yang sebagian besar tergantung pada organ-organ ibunya ke suatu system yang tergantung pada kemampuan genetik dan mekanisme homeostatic bayi itu sendiri. Lingkungan postnatal yang mempengaruhi tumbuh kembang anak secara umum dapat digolongkan sebagai berikut:

  1. Lingkungan Biologis
  2. Faktor Fisik
  3. Faktor Psikososial
  4. Faktor Keluarga dan Adat Istiadat
  1. Teori Belajar yang Dipelajari di Psikologi Pendidikan.

1.Teori belajar Behaviorisme

Teori behavioristik adalah sebuah teori yang dicetuskan oleh Gage dan Berliner tentang perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman. Teori ini lalu berkembang menjadi aliran psikologi belajar yang berpengaruh terhadap arah pengembangan teori dan praktik pendidikan dan pembelajaran yang dikenal sebagai aliran behavioristik. Aliran ini menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar. Teori behavioristik dengan model hubungan stimulus-responnya, mendudukkan orang yang belajar sebagai individu yang pasif. Respon atau perilaku tertentu dengan menggunakan metode pelatihan atau pembiasaan semata. Munculnya perilaku akan semakin kuat bila diberikan penguatan dan akan menghilang bila dikenai hukuman.

2. Teori  Belajar kognitivisme

Teori belajar kognitif mulai berkembang pada abad terakhir sebagai protes terhadap teori perilaku yang yang telah berkembang sebelumnya. Model kognitif ini memiliki perspektif bahwa para peserta didik memproses infromasi dan pelajaran melalui upayanya mengorganisir, menyimpan, dan kemudian menemukan hubungan antara pengetahuan yang baru dengan pengetahuan yang telah ada. Model ini menekankan pada bagaimana informasi diproses. Peneliti yang mengembangkan teori kognitif  ini adalah Ausubel, Bruner, dan Gagne. Dari ketiga peneliti ini, masing-masing memiliki penekanan yang berbeda. Ausubel menekankan pada apsek pengelolaan (organizer) yang memiliki pengaruh utama terhadap belajar.Bruner bekerja pada pengelompokkan atau penyediaan bentuk konsep sebagai suatu jawaban atas bagaimana peserta didik memperoleh informasi dari lingkungan.

3. Teori Belajar Konstruktivisme

Kontruksi berarti bersifat membangun, dalam konteks filsafat pendidikan dapat diartikan Konstruktivisme adalah suatu upaya membangun tata susunan hidup yang berbudaya modern. Konstruktivisme merupakan landasan berfikir (filosofi) pembelajaran konstektual yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan tidak sekonyong-konyong. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep, atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat. Manusia harus mengkontruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata. Dengan teori konstruktivisme siswa dapat berfikir untuk menyelesaikan masalah, mencari idea dan membuat keputusan. Siswa akan lebih paham karena mereka terlibat langsung dalam mebina pengetahuan baru, mereka akan lebih pahamdan mampu mengapliklasikannya dalam semua situasi. Selian itu siswa terlibat secara langsung dengan aktif, mereka akan ingat lebih lama semua konsep.

  1. Permasalahan yang Dihadapi Anak Dalam Masa Perkembangannya.

Permasalahan anak adalah sesuatu yang mengganggu kehidupan anak, yang timbul karena ketidak selarasan pada proses perkembangannya. Bila gangguan tersebut tidak segera diatasi maka akan berlanjut pada fase perkembangan berikutnya dan dapat menghambat proses perkembangannya. Dengan demikian penting bagi para orang tua guru untuk memahami permasalahan-permasalahan anak agar dapat meminimalkan kemunculan dan dampak permasalahan tersebut serta mampu memberika upaya bantuan yang tepat.

Permasalahan yang dihadapi anak pada usia perkembangan

  1. Permasalahan perkembangan dilihat dari segi faktor – faktor yang mempengaruhinya.
  • Perkembangan masa bayi dan kanak-kanak kecil (0-6 tahun):
  •  Masalah yang dihadapi:
  • Faktor keluarga: Tak mau di tinggal Ibu / pengantar, faktor lingkungan: mudah menangis dan takut ketika diganggu, dan lain sebagainya.
    • Perkembangan masa kanak-kanak (6-12 tahun):
    • Masalah yang dihadapi:

Faktor keluarga:  Orang tua membatasi anaknya dengan siapa bergaul, faktor lingkungan: penyesuaian dengan teman sebaya.

  • Perkembangan masa remaja (12-18 tahun):
  •  Masalah yang dihadapi:

Faktor keluarga:  Orang tua kurang memperhatikan anak, faktor lingkungan: pergaulan yang bebas.

  • Perkembangan masa dewasa (18-…tahun):
  •  Masalah yang dihadapi:

Faktor keluarga: Orang tua ikut campur memilihkan pasangan hidup, faktor lingkungan: Penyesuaian dalam masyarakat.

  • Perkembangan masa usia lanjut:
  •  Masalah yang dihadapi:

Faktor keluarga: Anaknya membatasi aktivitas, faktor lingkungan: sebagai orang yang di tuakan di lingkungan.

  1. Permasalahan perkembangan dipandang dari sudut fase perkembangan.
  • Perkembangan masa bayi dan kanak-kanak kecil (0-6 tahun):
  •  Masalah yang dihadapi: Kesulitan membedakan makanan dan minuman yang baik untuk dirinya.
    • Perkembangan masa kanak-kanak (6-12 tahun):
    • Masalah yang dihadapi: Mudah ngambek ketika keinginannya tidak dituruti.
      • Perkembangan masa remaja (12-18 tahun):
      •  Masalah yang dihadapi: ketika keadaan fisik tidak sesuai dengan harapannya dapat menimbulkan rasa tidak puas dan kurang percaya diri.
        • Perkembangan masa dewasa (18-…tahun):
        •  Masalah yang dihadapi: Pada awal menuju masa dewasa cenderung belum bisa mengambil keputusan dengan tepat.
          • Perkembangan masa usia lanjut:
          •  Masalah yang dihadapinya: Sudah mulai bingung dalam menghadapi suatu masalah.
  1. Permasalahan perkembangan ditinjau dari sudut tugas perkembangan.
  • Perkembangan masa bayi dan kanak-kanak kecil (0-6 tahun):
  •  Masalah yang dihadapi: Pada awal belajar berjalan cenderung masih takut mencoba lagi.
    • Perkembangan masa kanak-kanak (6-12 tahun):
    • Masalah yang dihadapi: Kurang mengembangkan sikap dalam pergaulan.
      • Perkembangan masa remaja (12-18 tahun):
      •  Masalah yang dihadapi: Belum sepenuhnya bisa mandiri.
        • Perkembangan masa dewasa (18-… tahun):
        •  Masalah yang dihadapi: Memilih pasangan hidup.
          • Perkembangan masa usia lanjut:
          •  Masalah yang dihadapi: Menurunya kesehatan fisik.
  1. Permasalahan perkembangan dilihat dari teori belajar.
  • Perkembangan masa bayi dan kanak-kanak kecil (0-6 tahun):
  •  Masalah yang dihadapi: Menirukan gerakan maupun gaya bahasa orang-orang yang ada di lingkungannya.
    •  Perkembangan masa kanak-kanak (6-12 tahun):
    • Masalah yang dihadapi: Pertanyaan yang ditanyakan terkadang tidak masuk akal.
      • Perkembangan masa remaja (12-18 tahun):
      •  Masalah yang dihadapi: Cenderung terpengaruh seiring masa perkembangan.
        • Perkembangan masa dewasa (18-…tahun):
        •  Masalah yang dihadapi: Masih kesuliatan dalam mengerjakan tugas yang diampuhnya.
          • Perkembangan masa usia lanjut:
          •  Masalah yang dihadapi: Tingkat pengindraan mata mulai menurun, sehingga kesulitan untuk membaca tulisan.

 

BAB IV

PENUTUP

1. Kesimpulan

  • Psikologi artinya ilmu pengetahuan yang mempelajari jiwa. Psikologi Pendidikan dapat membantu guru dan tenaga kependidikan lainnya untuk memahami tingkah laku belajar anak didiknya lebih baik dan memberikan penjelasan bahwa anak sedang keadaan belajar dengan baik atau tidak.
  • Perkembangan anak adalah perkembangan yang dialami oleh anak-anak secara continue, yang mana lama-kelamaan anak akan mengalami kemajuan.
  • Faktor-faktor yang mempengaruhi Perkembangan Anak adalah faktor genetik dan faktor lingkungan. Dimana faktor lingkungan dibagi menjadi 2 yakni lingkungan prenatal dan lingkungan postnatal. Pada lingkungan postnatal ada beberapa faktor yang mempengaruhi perkembangan yakni lingkungan biologis, faktor fisik, faktor psikososial, dan faktor keluarga dan adat istiadat.
  • Teori belajar yang dipelajari di psikologi pendidikan antara lain teori belajar behaviorisme, teori  belajar kognitivisme, dan teori belajar konstruktivisme.
  • Permasalahan yang dihadapi anak pada usia perkembangan yakni permasalahan perkembangan dilihat dari segi faktor–faktor yang mempengaruhinya, permasalahan perkembangan dilihat dari teori belajar, permasalahan perkembangan ditinjau dari sudut tugas perkembangan, dan permasalahan perkembangan dipandang dari sudut fase perkembangan.

2. Saran

Perkembangan seorang anak tidak terlepas dari peran keluarga sebagai lembaga pendidikan pertama yang merupakan modal utama bagi perkembangan anak kedepannya. Selanjutnya sekolah sebagai lembaga pendidikan  kedua yang formal berfungsi sebagai pusat pendidikan untuk pembentukan pribadi anak dan mengembangkan potensi yang ada pada anak. Serta masyarakat sebagai lembaga pendidikan ketiga sesudah keluarga dan sekolah, mempunyai sifat dan fungsi yang berbeda dengan ruang lingkup dengan batasan yang tidak jelas dan keanekaragaman bentuk kehidupan social serta berjenis-jenis budayanya yang tidak dapat dilepaskan dari nilai-nilai social budaya yang dijunjung tinggi oleh semua lapisan masyarakat. Jika dalam beberapa lingkungan tersebut dapat dikondisikan dengan semestinya tentu akan banyak hal baik yang akan diperoleh anak dalam proses perkembangannya.

About imroatulislamiya41

Mudah untuk suka Tapi mudah untuk B.O.S.A.N Mudah untuk semangat Tapi mudah untuk PUTUS ASA
This entry was posted in Umum and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s